Tampilkan postingan dengan label Adventure Tutorial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adventure Tutorial. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Maret 2010

Tips : bagaimana caranya menjadi petualang sekaligus menjadi penulis?


Pertama-tama yang harus dilakukan adalah menulis. Menulis adalah cara yang paling baik untuk meningkatkan kemampuan. Tidak ada cara lain, kecuali kalau memang anda dilahirkan dengan bakat yang luar biasa. Memang sih ada yang bilang, untuk menulis tidak perlu pergi jauh-jauh, tapi sebenarnya kuncinya ada pada kedisiplinan. Jutaan penulis diluar sana jarang sekali membuat jurnal, karena terlalu yakin bahwa mereka akan tetap menghasilkan tulisan yang bagus.
Nggak banyak tuh yang sukses dengan cara itu. Justru itu kenapa selalu ditekankan untuk selalu berlatih, sedikit demi sedikit, pelan-pelan terus menulis. Coba saja menulis secara teratur selama 6 bulan, dan anda akan merasakan peningkatannya. Jadi, makin termotivasi deh untuk terus menulis. Iya nggak?
 
Kembangkan kemampuan menulis Anda
Sama seperti pekerjaan lainnya, orang akan membayar anda bila reputasi anda cukup terkenal sebagai seorang penulis dan tulisan-tulisan Anda tentunya pernah dipublikasikan. Telur dan ayam lagi deh. Paling tidak adanya faktor relasi, kerja keras dan keberuntungan juga diperlukan disana.
Jika anda sedang melakukan perjalanan dan ingin sekali mengembangkan kemampuan menulis anda, coba deh ikuti beberapa tips berikut :
•    Cobalah untuk menulis secara teratur. Diluar sana banyak sekali hal-hal menarik dan pasti ada sesuatu yang dapat ditulis. Menulis secara teratur bisa jadi merupakan suatu pekerjaan yang menyebalkan, tapi anda tidak akan pernah menyesal. Paling tidak, bisa menjadi suatu kenangan menarik yang bisa anda baca di kemudian hari. Apalagi kalau anda membuatnya sebagai jurnal perjalanan karena pada akhirnya justru anda akan memiliki segepok data yang dapat anda tuliskan kembali menjadi suatu artikel.
•    Coba deh untuk menuliskan apa saja yang anda lihat. Mungkin pada mulanya seluruh tulisan anda nggak akan jauh beda dengan tulisan-tulisan anda yang lain. Tetapi dengan menulis hal-hal seperti ini anda mulai mengembangkan kemampuan deskriptif anda, dan tanpa anda sadari anda mulai menjelajah lebih jauh lagi. Mulai dapat melihat dari sudut pandang seorang penulis.
•    Seorang penulis yang handal mampu membuat sebuat tulisan yang menarik hanya tentang sebuah mesin cuci. Hanya di dalam satu lembar kertas A4 saja! Memang butuh waktu untuk memiliki kemampuan seperti itu. Jadi tuliskan apa saja yang terlintas dibenakmu, itu cara terbaik untuk memulainya.
•    Kalau sudah Pe De, mungkin anda ingin orang lain bisa membaca apa yang anda tulis. Umumnya orang lebih suka memuji, tapi coba deh meminta mereka untuk lebih jujur. Walaupun pedas, kritikan itu satu-satunya jalan untuk meningkatkan kemampuan. Kalau anda tidak tahu apa yang ada di benak para pembaca, bagaimana anda bisa mendapat umpan balik dari mereka?
Bagaimanapun, menulis itu panggilan hati. Menulis itu kalau anda suka mengerjakannya. Bagi seorang penulis, kadang-kadang perlu sedikit 'suasana', kecintaan akan apa yang mereka tulis, bahkan untuk hal-hal yang yang tidak disukainya pun, bukan menjadi masalah, selama ada chemistry-nya disana. Kalau anda tetap memaksa untuk menulis, dan pada satu titik anda merasa tidak sanggup lagi, bahkan anda pikir menulis itu hanya menjadi suatu derita saja. Bukan alasan untuk berhenti lho, justru dengan keadaan ini akan memacu anda untuk terus menulis sehingga anda akan dapat menuliskan apa yang anda rasa. Tapi bila sama sekali tidak ada keinginan untuk memulainya, itulah tantangannya!
Lakukan aja! Anda tidak akan bisa menjadi penulis tanpa pernah melakukan perjalanan dan menuliskannya….. lagipula dengan menulis dapat:
Menghasilkan uang dari menulis
OK, saya sebenarnya bukan orang yang tepat untuk menberikan tips ini. Tapi tidak ada ada salahnya bila saya berbagi informasi.
Bila anda menulis artikel dan anda pikir itu cukup bagus untuk ditampilkan, kirimkan saja ke majalah atau koran yang memiliki rubrik khusus mengenai perjalanan. (mungkin koran akhir minggu) bahkan majalah gratis yang biasanya diberikan kepada pembaca ( di UK ada satu majalah bagus namanya TNT, dan saya yakin di negara lain pun memiliki majalah serupa)
Bila tulisan anda di publikasikan, itu suatu tonggak sejarah – tentunya dapat anda jadikan referensi – jadi cobalah untuk berani mempublikasikan beberapa artikel anda. Anda tidak akan pernah tahu, karena bila anda tidak pernah mengirimkannya, jelas tulisan anda tidak akan pernah dipublikasikan.
Ada baiknya mempublikasikan tulisan anda melalui dunia maya, paling tidak tulisan anda dapat menjadi portfolio bagi anda; sebenarnya itu salah satu ide dibalik adanya suatu situs. Pilihlah artikel yang akan dimuat, karena seperti kebanyakan penerbit, mereka tidak akan tertarik pada artikel yang pernah dipublikasikan sebelumnya, dan itu termasuk artikel yang pernah muncul di dalam situs.
Tapi, terlepas dari itu semua, jangan patah semangat, karena kalau anda menyerah, anda tidak akan pernah menjadi seorang penulis yang handal. Jika anda penulis yang baik dan percaya penuh pada kemampuan diri, maka kesempatan akan jauh lebih terbuka daripada hanya berdiam diri saja. Butuh waktu, sedikit keberuntungan dan ketekunan.

Dibawah ini ada sebuah kutipan dan saya pikir, saya dapat membaginya dengan anda :
"Saya seorang penulis"
"Nulis tentang apa?"
"Umumnya info perjalanan. Saya pergi ke suatu tempat, saya melihat sesuatu dan saya cerap apa yang saya lihat dan kemudian saya tulis. Banyak kok penulis yang melalukan hal itu"
"Jadi, Anda akan tulis apa yang kita lihat sekarang?"
"Yup!"
"Apanya yang ditulis? Nggak ada yang istimewa yang harus ditulis kan?"
"Pasti. Pasti ada"

Kontributor : Ariesnawaty  
Ditulis oleh : Robert M Pirsig
Diterjemahkan oleh : Ariesnawaty

BOULDERING


Bouldering adalah salah satu cara yang paling efektif untuk meningkatkan baik tenaga maupun teknik. Tapi, diintimidasi oleh dinding-dinding yang terjal dan gerakan-gerakan yang melemahkan kekuatan dari gua-gua bouldering (bouldering caves), kebanyakan dari pemanjat-pemanjat pemula menghabiskan waktunya dengan toproping di gelanggang olahraga (gym). Disinilah asyiknya, latihan dua jam yang efektif akan menolong para boulderer baru berolahraga dengan resiko minim untuk frustasi, berlebihan berlatih, dan kegagalan yang terus menerus sering dikaitkan dengan dinding bouldering di dalam ruang yang buruk.
"sukses menghasilkan sukses". Menggunakan mantra ini, kamu akan menggunakan jam pertama latihanmu untuk mengembangkan keahlian yang diperlukan untuk melakukan gerakan yang lebih keras lagi. Bouldering merupakan satu cara yang secara teknis menuntut kedisiplinan memanjat- - - cara kamu meraih peganggan, memindahkan beratmu dan kecepatan dimana kamu memanjat semuanya berubah pada setiap gerakan dan rangkaian yang kamu coba. Makin sulit gerakan yang kamu selesaikan dengan sukses, semakin banyak teknik yang kamu pelajari dan semakin cepat tubuhmu menyesuaikan pada tantangan-tantangan baru. Jadi tujuannya adalah menemukan problem-problem yang cukup sulit untuk mengetes batas kemampuanmu, tapi cukup mudah untuk menyelesaikannya dalam jam pertama tersebut. Inilah beberapa tip untuk memilih problem:
Mulailah dengan problem kira-kira enam gerakan - cukup panjang untuk mengetes kekuatan dan teknikmu, tapi tidak begitu panjang sehingga menguras tenagamu. Jauhi problem-problem yang kamu dapat lakukan pada percobaan pertama atau kedua. Itu semua terlalu mudah.
Hindari negatif progres. Jika kamu gagal terus-menerus pada satu gerakan, atau menjadi buruk berturut-turut pada usahamu, problem yang kamu pilih mungkin terlalu susah.. Pilihlah problem yang lebih mudah.
Setelah kamu mendapatkan problem yang bagus, latihlah gerakannya. Lakukan percobaan dengan foothold (penahan kaki) dan posisi tubuh yang berbeda. Latih problem tersebut per section, latih ulang dan sempurnakan tiap-tiap gerakan. Ingat, kamu tidak perlu mulai dari tanah setiap saat!
Istirahatlah yang banyak. Biarkan dirimu istirahat antara tiga sampai lima menit sebelum mulai lagi.Kamu harus merasa segar untuk setiap usahamu.
Rancang problemmu sendiri. Jika problem-problem tersebut tampak terlalu sulit, pilih enam kendi (jugs) dan ciptakan menurutmu urutan untuk menghubungkan kendi-kendi tersebut. Siapkan problem problem yang masing-masing saling menantang.
Ingat, sukses adalah tujuan akhir. Batasi dirimu dengan satu atau dua problem yang kamu dapat kirim (selesaikan) pada jam pertama.
Mari kita coba hal tersebut lagi. Satu dari hal-hal yang paling membatasi yang dilakukan oleh para pemanjat dari semua level adalah meninggalkan proyek tersebut sekali saja mereka telah dapat menyelesaikannya. Jika kamu telah memilih problem yang berat, mulailah latihan yang sebenarnya! Kamu akan menggunakan jam kedua untuk kembali dan memeras setiap ons efisiensi keluar dari urutan yang telah dikenal, menyatupadukan teknikmu dan membangun ketahanan pada saat yang sama.
Cara yang baik melakukan hal ini adalah "Rule of threes:" Tiga rangkaian dari tiga wakil dengan tiga menit istirahat. Misalnya, kamu telah menghabiskan sepasang seisen (session) melatih problem yang sulit selama jam pertama, dan sekarang hampir terasa mudah. Waktunya pindah pada jam kedua.
Problem ini menjadi rangkaian pertamamu. Sekali kamu memulainya, kemudian istirahatlah selama tiga menit. Mulai lagi, tiga menit istirahat lagi. Kamu mulai yang ketiga kalinya. Sekarang ambil 10 menit istirahat. Ulangi pola ini untuk dua atau lebih problem dan kamu telah berlatih.
Kurang adalah lebih. Untuk pemanjat pemanjat pemula, pencapaian prestasi yang terbesar datang lewat teknik yang bertambah baik - bukan dari kekuatan ataupun ketahanan. Dan teknik paling baik dikembangkan jika tubuh mendapat istirahat yang baik. Untuk alasan-alasan ini, paling sedikit istirahatlah sehari antara hari-hari latihanmu, atau lebih jika kamu merasa kelelahan. Jangan takut menghabiskan begitu banyak waktu ditempat tidur. Satu dari hal-hal yang luar biasa tentang bouldering ini adalah bahwa kamu lebih dapat meningkatkan panjatanmu dalam latihan dua jam dibandingkan selama semalaman tegang dengan toprope. Jangan terintimidasi dengan dinding-dinding bouldering dan mutan-mutan remaja yang memamjat bersama mereka. Bouldering di dalam ruangan tidaklah harus brutal / kasar, dan itulah salah satu cara terbaik bagi pemanjat-pemanjat pemula untuk meningkatkan tehnik-tehnik mereka..
From Climbing Magazine

Senin, 08 Maret 2010


Navigasi Darat adalah..sebuah ilmu pemetaan yang digunakan untuk membaca peta topografi agar tidak tersesat dalam melakukan pendakian gunung....untuk lebih lengkapnya silakan didownload disini.

PerLengKaPan MenDaki


Bagi sebagian orang, mendaki gunung adalah kegiatan yang tidak berguna. Selain kedinginan dan kelelahan, risiko yang bakal dihadapi juga cukup besar. Banyak cerita para pendaki gunung yang tewas karena berbagai hal. Di antaranya jatuh ke jurang dan mati kedinginan.
Namun, bagi para petualang mendaki gunung menjadi aktivitas yang sangat menyenangkan. Di sini, mereka bisa berjalan menusuri rimba, melewati jurang yang terjal, dan mendaki bukit. Dengan aktivitas ini pemandangan alam yang tergelar di jagad raya bisa dinikmati dengan puas.
Sebelum melakukan pendakian sejumlah persiapan dilakukan dengan sebaik-baiknya. Perbekalan, perlengkapan, dan yang penting badan yang sehat.
Dan, untuk mendapatkan perlengkapan pendakian saat ini banyak toko yang khusus menjual itu. Tinggal pilih sesuai dompet, mau merek lokal atau asing.
Ada tas punggung besar (carril), kantong tidur (sleeping bag), topi gunung, dan sandal gunung. Kalau ingin tahu tas gunung, salah satunya diproduksi Mac Paratechnology Switzerland dengan merek Mountain Bag Solo.
Tas gunung ini punya kemampuan ukuran melar maksimal sampai 68x40x30 sentimeter dengan berat 800 gram. Ukurannya yang cukup besar memungkinkan untuk nemampung berbagai barang dan keperluan pendakian. Tas ini memiliki dua buah kantong yang bisa dimanfaatkan untuk menyimpang barang-barang yang ukurannya kecil. Juga ada kantong khusus untuk menyimpan berbagai dokumen penting. Pada bagian atas terdapat penutup yang berukuran besar. Fungsinya sebagai hiasan. Selain tas jenis ini, Mac Paratechnology juga mengeluarkan tas gunung jenis Montain Biplace Bag yang berukuran lebih besar, 80x50x40 sentimeter dengan berat 950 gram. Tas ini memiliki sabuk pengait untuk mengencangkan tas di tubuh pemakai.
Jika ingin tahu tas gunung lain ada yang keluaran Eiger. Salah satunya adalah Marmot Eiger 45 Pack. Dijual seharga 139 dolar AS (kira-kira Rp 1,4 juta per piece, tas Eiger ini bisa digunakan untuk naik gunung, dan juga berselancar ski. Yang berukuran besar seberat 1,8 kilogram, yang sedang seberat 1,7 kilogram.
Atau, mau pilih jenis Marmot Vapor 45 Back Pack. Harganya 189,95 dolar AS (sekitar Rp 1,9 juta). Tas jenis ini juga memiliki berbagai fasilitas dan kelebihan.
Untuk sleeping bag (kantong tidur) produk Rock Empire bisa dijadikan pertimbangan. Salah satu keluarannya adalah CYKLO 800 Sleeping Bag. Kantong tidur ini nyaman dipakai di segala medan, dan mudah digulung. Selain untuk para pendaki sleeping bag berbahan nilon Ripstop ini juga bisa digunakan untuk camping di alam bebas.
Bisa juga mempertimbangkan Rock Empire Ontario untuk mereka yang sedang berada di suhu dan cuaca yang dingin. Kantong tidur ini cocok digunakan di daerah bersuhu 20 derajat Celcius hingga -15 derajat Celcius.
Perlengkapan lain yang biasanya harus dibawa para pendaki adalah sandal gunung. Salah satu merek terkenalnya adalah La Sportiva Eddy. Selain untuk pendakian, sandal ini juga nyaman digunakan untuk kegiatan di sungai.

Persiapan Pendakian
Bagi para petualang, mendaki gunung adalah kegiatan yang sangat menyenangkan. Bagaimana tidak, dengan melakukan kegiatan ini, maka seseorang bisa menyaksikan keindahan alam yang luar biasa di puncak gunung. Belum lagi dengan pemandangan yang bisa ditemui di sepanjang jalur pendakian.
Namun mendaki gunung tetap memerlukan persiapan khusus, baik teknis maupun fisik. Sebab jika tidak, maka bisa jadi mendaki gunung akan menjadi kegiatan yang sangat tidak menyenangkan.Bahkan lebih dari itu, tanpa persiapan khusus, seorang pendaki bisa mengalami celaka.
Beberapa persiapan sebelum mendaki gunung adalah :
1. Lakukan latihan fisik secara teratur dan benar. Misalnya adalah jogging yang dilakukan selama 30 menit, dua kali seminggu. Latihan ini bertujuan untuk melatih daya tahan jantung dan paru-paru.
Jogging juga berfungsi untuk melatih otot kaki. Hal ini penting dilakukan karena selama mendaki gunung, otot kaki sering mengalami kontraksi.
2. Kemampuan membaca peta dan kompas juga perlu dilatih. Ini untuk menghindari tersesat di gunung. Sebab seringkali para pendaki tersesat di gunung karena tidak mampu membaca medan.
3. Perlengkapan teknis perlu dipersiapkan dan jangan sampai tertinggal. Sebab dengan perlengkapan yang cukup, maka kegiatan mendaki akan berjalan dengan lancar. Sebaliknya dengan perbekalan yang seadanya, maka sangat dimungkinkan banyak kendala yang akan ditemui saat pendakian.
Beberapa perlengkapan atau bekal yang harus dibawa saat mendaki gunung adalah :
* Carriel atau tas besar untuk menampung seluruh perbekalan dan peralatan yang dibutuhkan
* Matras. Fungsinya adalah untuk alas duduk saat beristirahat sejenak.Matras juga bisa digunakan untuk pelapis di dalam carriel agar terlihat lebih rapi.
* Jas hujan. Alat ini sangat diperlukan terutama untuk mengantisipasi jika turun hujan saat pendakian. Sebab seringkali cuaca di gunung kurang bersahabat dan turun hujan yang cukup lebat.
* Tenda.Alat ini digunakan ketika para pendaki hendak beristirahat dalam waktu yang cukup lama. Tenda juga bisa melindungi para pendaki saat terjadi hujan atau angin kencang.
* Kantung tidur atau Sleeping bag.Alat ini berfungsi untuk menyelimuti saat tidur di gunung.Selain itu juga bisa digunakan sebagai alas tidur.
* Alat penerangan, seperti senter, lilin, batere cadangan, lampu badai. Dengan adanya alat penerangan yang memadai, maka kegiatan mendaki di malam hari bisa berjalan dengan lancar.
* Topi, sarung tangan, kaos kaki tebal, sepatu khusus. Sepatu khusus ini diperlukan karena medan di pegunungan beda dengan medan di daerah yang datar sehingga memerlukan sepatu yang khusus.
* Pakaian hangat seperti jaket, kaus lengan panjang dan celana panjang kasual dengan bahan yang kuat dan nyaman pakai.
* Alat-alat P3K, suplemen makanan, makanan instan/kalengan, dan minuman mineral. Ketersediaan makanan yang cukup akan mampu memberikan energi yang cukup pula saat mendaki.
* Golok tebas, pisau lipat, dan teropong. Yang tidak kalah pentingnya adalah alat perekam (kamera atau handycam) untuk mendokumentasikan kegiatan selama pendakian.

PeCinTa ALam BuKaN tARzAN

Pencinta Alam bukan Tarzan
Pelabuhan adalah tempat teraman bagi perahu. Akan tetapi, perahu dibuat untuk berlayar, baru kemudian berlabuh.
DALAM hitungan hari, tiga calon anggota perhimpunan pencinta alam meninggal dunia. Diduga, mereka meninggal akibat keikutsertaannya dalam program pendidikan dasar yang diselenggarakan perhimpunan pencinta alam. Benarkah demikian? Belum ada yang berani berkomentar, bahkan kepolisian pun masih menyelidikinya. Namun, tiga kasus serupa yang terjadi pada perhimpunan pencinta alam di tiga perguruan tinggi itu bisa mengindikasikan "sesuatu".
Bagaimanapun, kejadian-kejadian seperti itu tidak hanya merugikan pihak korban, tetapi juga kelangsungan hidup kegiatan/olah raga di alam bebas. Tidak mustahil orang-orang akan takut untuk mengikuti kegiatan di alam bebas. Bila itu terjadi, imbasnya juga akan menerpa pada kehidupan masyarakat dan lingkungan.
"Bayangkan bila orang-orang sudah tak mau lagi melakukan kegiatan di alam bebas, kemudian tidak peduli lagi dengan alam dan lingkungan, apa yang akan terjadi?" kata dua tokoh senior Perhimpunan Pendaki Gunung dan Penempuh Rimba Wanadri, Ir. Iwan Abdurachman (Singawalang/1964) dan Prasidi Widyasarjana (Tapak Rimba/1971). Kedua tokoh yang ditemui di sekretariat Wanadri Jln. Aceh 155 Bandung, Rabu (3/3) malam, memang mengkhawatirkan adanya trauma pada masyarakat untuk mengikuti kegiatan di alam bebas.
"Tanpa mengurangi rasa prihatin dan belasungkawa kami kepada keluarga korban, kejadian-kejadian seperti itu tidak seharusnya membuat orang menjadi takut. Saya contohkan, ketika pesawat ulang-alik AS meledak di udara yang disaksikan langsung keluarga awak pesawat, AS dan rakyatnya tidak langsung jera. Hari ini meledak, besoknya mereka membuat lagi pesawat ulang-alik," kata Iwan Abdurachman yang akrab dengan panggilan Abah Iwan atau Abah Ompong.
Namun, katanya menambahkan, semangat untuk melanjutkan petualangan ke luar angkasa itu diikuti dengan pembelajaran dan penelitian, sehingga kasus yang sama tidak akan terulang lagi. Demikian pula pada kejadian-kejadian meninggalnya para calon anggota perhimpunan pencinta alam, jangan membuat gairah berkegiatan di alam bebas itu berkurang, apalagi sampai padam. Justru, kejadian-kejadian tersebut harus membuat para penggemar kegiatan di alam bebas lebih hati-hati, tidak ceroboh. "Kegiatan di alam bebas itu berisiko. Nah, tinggal bagaimana kita mengeliminasi risiko itu," kata Prasidi yang biasa dipanggil Mas Pras.
Lalu, bagaimana caranya mengeliminasi risiko itu? "Pencinta alam itu bukan Tarzan, yang berada di leuweung tanpa bekal dan perlengkapan. Oleh karena itu, pencinta alam harus dibekali ilmu dan keterampilan untuk hidup di alam bebas," jelas Abah Iwan. Pembekalan ilmu dan keterampilan itulah yang biasa disebut dengan pendidikan dasar.
Kekerasan?
Selama ini, muncul citra pada masyarakat bahwa dalam pendidikan dasar pencinta alam sering terjadi kekerasan fisik, kalau tidak bisa disebutkan sebagai penganiayaan. Apakah citra itu sesuai dengan kenyataan? Apakah kekerasan fisik itu yang menyebabkan kematian peserta? Abah Iwan, Mas Pras, serta anggota Wanadri yang hadir di sekretariat saat itu langsung membantahnya. "Dalam tata tertib Wanadri, menempeleng (menampar - red.) pun dilarang bila tidak dalam kondisi yang mengharuskannya. Bahkan, orang yang berhak menempeleng pun tidak sembarangan," kata Bah Iwan.
Mas Pras menambahkan, dalam pendidikan dasar di Wanadri penamparan dilakukan hanya untuk menyadarkan siswa atau peserta pendidikan yang pingsan atau mengalami kepanikan. "Kegiatan di alam bebas itu keras, jangan ditambah lagi oleh kekerasan fisik. Kami berpegang pada pesan salah seorang pelindung kami, Pak Sarwo Edhie, yang menjelaskan bahwa pendidikan itu dimaksudkan untuk membangun human skill. Kekerasan bisa jadi bukannya membangun, melainkan menjatuhkan human skill peserta. Kalau sudah down, pendidikan akan percuma karena tidak menghasilkan anggota yang sesuai dengan harapan," kata Mas Pras menjelaskan.
Sebenarnya, keras dalam pendidikan dasar bukan yang berkaitan dengan kontak fisik dan sebagainya, yang bisa saja menjurus pada tindak pidana. Keras dalam pendidikan dasar adalah prosedur dan program. Hal itu disesuaikan dengan sifat kegiatan alam bebas yang memang keras.
Empat anggota Wanadri lainnya; M. Heru N. (Kabut Lembah/1999), Galih Donikara (Topan Rawa/1989), Agus Nugraha (Elang Rimba/1983), dan Dedi Chiko (Tapak Lembah/1993) menjelaskan bagaimana kerasnya Wanadri menjalankan prosedur dan program pendidikan dasar. Setidaknya, tiga tahap khusus dilaksanakan Wanadri sebelum melakukan pendidikan dasar di lapangan.
Tahap pertama adalah tes yang dimaksudkan untuk menjaring calon peserta. Tes yang dilakukan adalah tes kesehatan (general check up) bekerja sama dengan Kesdam, psikotes (Psikoad), physical fitness (kebugaran fisik), dan tes renang. "Rekomendasi dari tim penguji itu mutlak. Bila mereka mengatakan tidak, kami tidak akan menyertakan calon peserta itu," kata mereka.
Tahap kedua adalah masa prakondisi. Pada tahap kedua, para calon peserta yang sudah lolos tes mendapat pelatihan fisik selama dua bulan. "Walaupun sudah menjalani tes, kami memberi latihan fisik agar kondisi mereka bisa fit saat benar-benar menjalani pendidikan di lapangan. Soalnya, kondisi sosial kita kan sudah terlalu enak dan bisa membuat kita manja. Kendaraan sudah banyak, sehingga orang jarang berjalan kaki. Bila tidak dibiasakan dengan latihan, bisa-bisa saat di lapangan kondisi fisik mereka menurun," kata Mas Pras menjelaskan.
Tahap ketiga adalah program pemberian teori dan teknik hidup di alam bebas. "Setelah semua tahap itu dilampaui, barulah pendidikan di lapangan dilaksanakan. Program di lapangan pun dilakukan secara gradual (bertahap) sesuai dengan target yang ingin kita capai," kata Mas Pras.
Program pendidikan di lapangan disusun sedemikian rupa, misalnya dari kegiatan yang masih melibatkan kelompok hingga yang menekankan kemandirian. Misalnya, dari tidur berkelompok di barak, kemudian ke bivak (tenda) kelompok, hingga solo bivak. Pelatihan dilakukan dengan tingkat-tingkat bahaya tertentu, seperti objective danger, subjective danger, appearance danger, hingga real danger. "Pokoknya, peserta tidak langsung dihadapkan pada kondisi yang benar-benar bahaya," kata Mas Pras lagi.
Nah, paparan-paparan dari anggota Wanadri itu mudah-mudahan menjelaskan bahwa kegiatan di alam bebas memang tidak mudah. Namun, itu tidak berarti bahwa kegiatan di alam bebas mustahil dilaksanakan. Bukankah puncak Everest pun sudah dicapai manusia sejak 50 tahun lalu? Namun, satu hal yang pasti -- seperti yang dikatakan Bah Iwan -- pencinta alam bukanlah Tarzan! (Tendy K. Somantri/"PR")